Langsung ke konten utama

"Potensi Desa Pura Timur Sebagai Objek Daya Tarik Pariwisata Alam dan Budaya"

 
(Foto: Zonalinenews.com)

"PENGEMBANGAN POTENSI DESA SEBAGAI OBJEK DAYA TARIK PARIWISATA 
BUDAYA DESA PURA TIMUR"

               
Penulis:
1.Yusuf Tande, S.Pd
    E-mail : yusuftande2@gmail.com. 
2. Laheroy Kolli, S.Si
3. Dersi Yenkari, S.TP 
    E-mail : jenkaridersi0477@gmail.com.  


Latar Belakang

Pariwisata adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan manusia yang melakukan perjalanan atau persinggahan sementara dari tempat tinggalnya, ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan tanpa bermaksud mencari nafkah. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat penting karena merupakan salah satu sumber devisa Negara dan mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembangunan Desa tersebut. 

Saat ini pariwisata mengalami perubahan, dari yang sebelumnya yaitu pariwisata konvensional berubah menjadi pariwisata minat khusus. Pada pariwisata minat khusus wisatawan berkecenderungan lebih menghargai lingkungan, alam, budaya dan atraksi secara spesial. Salah satu pariwisata minat khusus yang sedang berkembang di Indonesia  adalah  Desa wisata berbasis budaya. Beberapa daerah di Indonesia tidak luput juga mengembangkan jenis pariwisata desa wisata berbasis budaya, salah satunya di daerah Kabupaten Alor terkhususnya  Desa Pura Timur yang berpusat ibu kota di Harilolong yang mana mrupakan sebuah kampung di Pulau Pura yang kini banyak dilirik wisatawan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kab. Alor. Selain taman bawah lautnya yang indah dengan ragam biota laut dan koral beraneka warna, Harilolong juga di kenal sebagai kampung berwarna. Aktifitas nelayan serta proses pembuatan sopi(minuman tradisional) menjadi daya tarik berikutnya saat berkunjung ke Pulau Pura. Nama Harilolong sendiri adalah gabungan dari dua suku kata, yakni; HARI yang artinya dewa/penguasa laut dan LOLONG yang artinya kampung/perkampungan. Jadi, HARILOLONG artinya kampung penguasa laut.
     
Dalam rangka mewujudkan pembangunan desa wisata,  masyarakat lokal sebenarnya memiliki pengetahuan(local knowledge) untuk mengelola sumber daya yang mereka miliki. Masyarakat lokal adalah orang yang mewarisi pengetahuan tentang sumber daya lokal baik fisik maupun budaya secara turun temurun. Dalam pengelolaan sumber daya tersebut, masyarakat setempat akan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi(local accountability) dibandingkan dengan mereka yang berasal dari luar, karena kegiatan yang dilakukan secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka.

Oleh karena itu, melalui pemerintahan desa lewat kerjasama pemerintah daerah, diharapkan dapat merealisasikan akan kekayaan potensi alam berupa obyek-obyek wisata desa dan juga nilai-nilai budaya yang menjadi kearifan lokal yang menjadi faktor ekonomi dan investasi yang sangat menentukan dalam industry pariwisata yang berada di Kecamatan Pulau Pura, terkhususnya Desa Pura Timur.

Berangkat dari masalah pokok diatas, peran pemerintah lokal sangat penting bagaimana melihat dan menata kearifan lokal budaya yang sangat potensial yang dapat dikembangkan menjadi sebuah obyek wisata bagi para wisatawan, baik dari mancanegara maupun luar negeri dengan tujuan memperkenalkan kepada khalayak umum tentang kearifan lokal budaya masyarakat yang berada di desa Pura Timur.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah apa sajakah berbagai potensi yang ada di desa Pura Timur, apa permasalahan  mendasar yang terkait dengan keberadaan desa wisata budaya dan bagaimanakah upaya-upaya sebagai alternatif solusi dari permasalahan tersebut.

Pariwisata dapat diartikan suatu aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan untuk bepergian ke suatu tempat tujuan wisata di luar keseharian dan lingkungan tempat tinggalnya untuk melakukan persinggahan yang sifatnya sementara waktu dari tempat tinggal, yang didorong beberapa keperluan tanpa untuk bermaksud mencari nafkah, namun didasarkan untuk mendapatkan kesenangan, disertai untuk menikmati berbagai hiburan yang dapat melepaskan lelah dan menghasilkan pengalaman perjalanan berwisata dan pelayanan keramah-tamahan (Inskeep, Edward, 1991). Kegiatan berwisata berlangsung karena banyak faktor, salah satu di antaraya adalah faktor daya tarik wisata yang ada di destinasi wisata.  

Menurut Undang-Undang Kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009, daya tarik  wisata adalah segala sesuatu yang memilik keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Salah satu jenis pariwisata di antaranya adalah pariwisata budaya yaitu kegiatan berwisata yang memanfaatkan perkembangan potensi hasil budaya manusia sebagai objek daya tariknya. Jenis wisata ini dapat memberikan manfaat dalam bidang social budaya karena dapat membantu melestarikan warisan budaya sebagai jati diri masyarakat lokal yang memiliki kebudayaan tersebut.

Bentuk kegiatan wisata budaya salah satunya adalah dengan mengunjungi desa wisata. Pemahaman istilah desa wisata cukup beragam. Nuryanti, Wiendu(1993) menyebutkan bahwa Desa wisata didefinisikan sebagai bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara tradisi yang berlaku. Penetepannya harus memenuhi persyaratan di antaranya: 

1. Aksesibilitasnya baik, sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan   berbagai jenis alat transportasi.

2. Memiliki obyek-obyek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. 

3. Masyarakat dan aparat desanya menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa wisata serta para wisatawan yang datang ke desanya. 

4. Keamanan di desa tersebut terjamin.  

5. Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai.

6. Beriklim sejuk atau dingin. Berhubungan dengan obyek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Tidak hanya itu, untuk memperkaya obyek dan daya tarik wisata di sebuah desa wisata, beberapa fasilitas dan kegiatan dapat dibangun mulai dari : 

1) Eco-lodge : Renovasi homestay agar memenuhi persyaratan akomodasi wisatawan atau membangun guest house berupa, bamboo house, traditional house, log house, dan lain sebagainya.

2) Eco-recreation : Kegiatan pertanian, pertunjukan kesenian lokal, memancing ikan di laut, jalan-jalan di desa(hiking), biking di desa dan lain sebagainya. 

3) Eco-education: Mendidik wisatawan mengenai pendidikan lingkungan dan mengenalkan flora dan fauna yang ada di desa yang bersangkutan. 

4) Eco-research : Meneliti flora dan fauna yang ada di desa, dan mengembangkan produk yang dihasilkan di desa, serta meneliti keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di desa tersebut, dan sebagainya. 

Potensi Wisata Desa Pura Timur

Pembangunan pariwisata Desa Pura Timur dalam pemerintahan yang baru menetapkan objek-objek wisata sebagai daya tarik bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Desa Pura Timur. Objek wisata yang potensial, antara lain : 

Keindahan wisata alam laut Desa Pura Timur

Terhampar luas yang diapit oleh dua pulau yaitu Ternate dan Pulau Kepa, menawarkan keindahan mata untuk memandang  jika dilihat dari atas perahu motor yang ditumpangi. Sepanjang bibir pantai dari Latang sampai Palakang menyimpan pesona keindahan laut yang luas dan teduh sehingga berpotensi para wisatawan untuk melakukan snorcling dan diving. Pesona bawah laut juga menyimpan keindahan laut berupa terumbu karang dan juga jenis-jenis ikan, yaitu belo-belo, ikan tongkol, ikan lamoru, ikan belang kuning, dan masih banyak jenis ikan lainnya.

Tambatan atau dermaga Desa Pura Timur

Untuk desa Pura Timur sendiri telah memiliki 3 buah tambatan/dermaga, sebagai pusat  berlabuhnya perahu motor dimana para wisatawan dapat mengenal lebih dekat lagi tentang kehidupan sosial budaya dan kearifan lokalnya. Lokasi dermaga pertama berada di Latang RT 01, dusun A tepatnya di bagian selatan atau samping SMP Negeri Latang, dermaga kedua berada di Harilolong sebagai pusat para pengunjung lokal maupun masyarakat lokal melakukan perjalanan keluar pulau, dan yang ketiga tepatnya berada di Palakang RT 08, dusun B arah barat desa Pura Timur. Tambatan atau dermaga juga menjadi tempat object pemotretan dan pemandangan matahari terbit di pagi hari(sunrise) yang dapat menyajikan pemandangan dan juga dapat memanjakan mata bagi pecinta alam.

Arsitektur tugu monument Injil 
 
Setinggi 12 meter merupakan sebuah tugu yang dibangun oleh masyarakat setempat pada Oktober 2008, yang mana tugu ini sebagai lambang awal mula masuknya Injil kedaerah Pulau Pura pada 01 Januari 1923 dan pada tahun 2023 mendatang Tugu ini memasuki 100 tahun atau 1 abad. Arsitektur tugu monumen sendiri terletak di Palakang, RT 08, dusun B, Desa Pura Timur.

Prasasti peninggalan leluhur 
   
Terdapat di Harilolong(kampung lama) dimana para pengunjung juga dapat melihat peninggalan berupa sebuah prasasti berdirinya bangunan gereja lama dan juga beberapa mesbah yang telah ada sejak dahulu kala. 

Lokasi ini terletak di pertengahan kaki gunung yang mana dapat di tempuh dengan jarak 1 KM dari lokasi bangunan gereja yang baru. Bagi para pengunjung pertama yang hendak melakukan perjalanan ke tempat ini, akan menguji dan memacu adrenalin dan akan disuguhkan pula hamparan perkebunan tuak dimana ini merupakan bagian dari mata pencaharian masyarakat Desa Pura Timur dan jika kita hendak menoleh kebelakang, maka terhampar lautan yang luas nan indah dengan pemandangan pulau Ternate, pula Kepa dan sebagian pulau Alor yaitu, Kokar, Alor Kecil, teluk Mutiara dan juga Wolwal Kec. ABAD.
 
Mesbah atau tempat acara lego-lego 
   
Dalam bahasa Blaggar/Pura disebut Doru dimana tempat ini merupakan pusat lokasi kampung untuk membicarakan berbagai macam hal, berupa: 1) sebuah permasalahan yang terjadi didalam kampung; 2) sebagai tempat wawancara tua-tua adat dan juga; 3) sebagai tempat acara lego-lego dalam acara resmi berupa penjemputan tamu dari pemerintahan, pengantaran mimbar, adat perkawinan, dan acara lainnya. Lokasi mesbah atau tempat acara lego-lego ini sangat strategis untuk di jangkau oleh para pengunjung yang hendak pergi ke tempat tersebur.

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Desa Pura Timur

Kebudayaan atau budaya merupakan kata yang berasal dari bahasa sanskerta, yaitu  Buddhayah merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara umum kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan serta kebiasaan.

Bahasa

Bahasa adalah suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasikan kebudayaan.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Pura pada umumnya adalah bahasa daerah(bahasa ibu) untuk komunikasi sehari-hari. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Blagar/Pura terdapat di daerah Batu, Ombay, Merdeka, Mawar, Nule, Toang, Pulau Treweng, dan Pulau Pura kecuali Daerah Retta (Retika, 2012:9).
Bahasa Blagar/Pura digunakan sebagai alat komunikasi bagi masyarakat setempat. Di samping sebagai bahasa pengantar di lingkungan keluarga, juga digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari untuk beraktifitas seperti di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya. Kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid dan gereja menggunakan bahasa Blagar/Pura, sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh masyarakat setempat.

Seperti bahasa daerah lainnya di Pulau Alor, bahasa Blagar memiliki fungsi sosial dan fungsi budaya dalam kehidupan berbahasa. Bahasa Blagar digunakan sebagai  alat komunikasi antarwarga masyarakat. 
Fungsi sosial dan fungsi budaya dimaksud bahwa bahasa Blagar digunakan pada kegiatan-kegiatan budaya. Aktivitas budaya masyarakat menggunakan bahasa Blagar dalam berkomunikasi terutama yang berhubungan dengan adat istiadat seperti: upacara perkawinan, membangun rumah, upacara kelahiran, upacara kematian, upacara ritual adat dan lain-lain. 

Berikut adalah beberapa daftar kata dalam bahasa Blagar/Pura yang ambil oleh peneliti sebagai sample (contoh kecil) komunikasi sehari-hari masyarakat Pura khususnya desa Pura Timur:

Nimang, ta'angmila
Father, where are you going
Bapak, mau pi mana.
Niva, ta'angmila
Mother,where are you go
Mama, mau pi mana
Mapina'adang  
We eat
Kita makan
Mapijarna
We drink
Kita minum Nimang/niva jedung angami singgah.
Nimang/niva mapi havami mihi hengi matha senge lamal.
Bapak/mama singgah ko ?
Nimang/niva, taitanamang viami lamal
Father/mother becareful on the way
Bapak/mama hati-hati dijalan. 

Adatiah

Kabupaten Alor memiliki keragaman ethnolinguistik(bahasa) dan keragaman etnis(suku, agama, sistem nilai dan tradisi). Masing-masing mempunyai pola interaktif sosial yang khas berbasis gotong royong dan kekeluargaan, sehingga mempengaruhi pola pemukiman penduduk. Keanekaragaman ini membuat Kabupaten Alor sangat kaya dengan nilai moral, estetika, etika, dan toleransi yang tinggi. Hal ini merupakan kekuatan moral, sebagai landasan dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan termasuk pembangunan pariwisata budaya. Sistem kekerabatan yang mengambil dasar garis keturunan ayah, dipertahankan dengan sistem perkawinan secara eksogami. Oleh karena itu perkawinan bukan lagi urusan individu-individu yang bersangkutan, atau urusan keluarga inti, tetapi merupakan urusan secara keseluruhan. Perkawinan adalah puncak kebahagiaan dalam dunia baka di dunia nyata ini. Bentuk-bentuk perkawinan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi perkembangan pariwisata budaya di Kabupaten Alor. 

Ada dua hal yang menjadi syarat penting dalam melaksanakan upacara perkawinan masyarakat Alor, yaitu moko dan belis. Moko adalah benda yang dianggap suci dalam mengikat tali perkawinan, untuk membayar calon istrinya dan kemudian diangkat menjadi anggota klannya(umungnya). Sedangkan belis adalah mas kawin, yang harus dibayarkan dalam bentuk moko sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh lembaga adat.

Perkawinan "Belis" 
 
Jenis Moko Makasar Tanah

Belis merupakan mas kawin yang harus dibayarkan dalam bentuk moko ketika seorang laki-laki yang hendak mengambil seorang perempuan menjadi istrinya. Untuk Pulau Pura, jenis moko yang pake sebagai alat perkawinan adalah moko jenis Makasar tanah. Sekilas sejarah perjalanan tentang moko sebagai alat tukar, pada awalnya ketika seorang Laki-laki yang hendak mengawini seorang perempuan, maka harus membayar dengan 30 moko Makasar tanah.

Pengurangan Moko

Pengurangan moko berjumlah 30 moko telah dilakukan melalui rapat bersama antara tua-tua adat dan pemerintah setempat. Rapat pertama berlaku di Pulateli, Desa Pura Barat oleh Kepala Desa Bapak Niko Dopong dan dihadiri oleh semua dewan adat Pulau Pura, Ternate dan Buaya dengan tujuan membicarakan tentang pengurangan jumlah moko dari 30 moko menjadi 15 moko. Rapat kedua dilakukan di Desa Pura, Solangbali dihadiri pula semua dewan adat, maka dengan keputusan bersama 15 moko menjadi 10 moko. Rapat ketiga bertempat di SKB Wolatang pada 18-19 Oktober 2011 dengan pembahasan tentang semua perkawinan adatiah. Rapat keempat betempat di Hotel Adidarma dan rapat yang ke kelima bertempat di Aula Jemaat Pola dengan keputusan antar rukun Pura - Ternate dan Pulau Buaya dengan Nomor: 001/PTB/XI/2011, dengan mengatakan bahwa harga belis diturunkan menjadi 1 buah moko Makasar tanah(jika tidak ada dibayar dengan uang sebesar tuju juta rupiah). Untuk pohon pelepas 1 buah moko Malai Sarani(jika tidak ada dibayar dengan uang sebesar satu juta lima ratus ribuh) dan keputusan inilah yang berlaku sampai dengan saat ini, dengan memiliki motto :

"Ada juga omong, tidak ada juga omong. Ada juga dia punya bahasa ada, tidak ada juga ada dia punya bahasa."

Keputusan ini telah disepakati oleh ketiga pulau, yaitu Pulau Pura, Ternate dan Buaya dan tetap berlaku dari generasi ke generasi sampai dengan saat ini.

Sektor Kerajinan

Masyarakat Desa Pura Timur yang heterogen memiliki kemampuan usaha sesuai dengan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun. Usaha tradisional ini juga sangat berpotensi untuk mendukung pembangunan wisata di Desa Pura Timur, antara lain: Kerajinan anyaman dapat berbentuk: anyaman bambu berupa pembuatan bubu(alat penangkap ikan), anyaman pukat(jaring penangkap ikan), anyaman daun lontar berupa nyiru, kipas, tas, bakul.

Sosial Budaya  Mayarakat Adat/Adatia

Masyarakat Desa Pura Timur adalah masyarakat majemuk yang memiliki beragam budaya dan kebiasaan baik itu dari segi pergaulan, di mana masyarakat hidup berdampingan dan saling kerja sama. Namun di tengah-tengah kehidupan seperti itu, ada juga kehidupan dan pemikiran masyarakat tentang pembangunan, baik sumberdaya alam dan juga sumberdaya manusia yang sangat kurang. Sehingga mengakibatkan angka pengangguran menjadi sangat tinggi , dan juga kurangnya lapangan kerja yang bisa menunjang kehidupan masyarakat.

Masyarakat Desa Pura Timur dalam pola hubungan antar sesama serta sistem kekerabatan, sangatlah menjunjung tinggi etika sosial budaya. Pola hubungan ini tidak hanya terjalin di tengah keluarga tetapi juga tetap ditunjukkan kepada pendatang baru dan nilai-nilai ini perlu dipertahankan serta dikembangkan.

Dalam kehidupan mereka, bersosial ada nilai-nilai budaya yang dibangun. Hal ini terlihat dari adanya kebersamaan dalam bergotong royong, adanya keterbukaan, serta kepedulian satu sama dengan yang lain.

Interaksi Sosial

Proses interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial sebagai faktor utama dalam kehidupan sosial.

Homans (dalam Soekanto, 2002: 15) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain dan di beri ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus atau perangsang bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.

Adatia Yang Berhubungan Dengan Praktik Kehidupan Sehari - Hari

Adapun ritual - ritual adatia yang berhubungan dengan kehidupan sehari - hari dari masyarakat di wilayah Desa Pura Timur  adalah :

1. Adanya budaya untuk menyapa kerabat atau tamu untuk singgah. Kemudian tamu atau kerabat ini akan disuguhi sirih, pinang, tembakau atau rokok -baik itu  laki-laki atau perempuan -minuman berupa sopi, tuak, jagung bunga, kopi atau teh;

2. Adanya Kerjasama secara gotong-royong untuk mengerjakan pekerjaan  pribadi ataupun kelompok -terutama dalam pembangunan rumah, rumah tinggal, gereja, jalan raya/stapak, menarik pukat di laut  dll.

3. Adanya kewajiban bagi seorang anak perempuan yang sudah menikah untuk membawa hewan, kain, padi, jagung, dan juga gong ketika terjadi kedukaan dalam keluarga.

4. Dalam upacara pinangan, semua persiapan untuk menyambut keluarga laki-laki akan disiapkan dengan baik oleh keluarga perempuan meskipun hal itu harus membuat keluarga perempuan berutang atau meminjam.

Wilayah Desa Pura Timur  terdiri dari 6 suku. Ke-6 suku ini tersebar di wilayah Desa Pura Timur. Meskipun tersebar, namun dalam kenyataannya setiap anggota suku tetap memiliki ikatan yang kuat. Hal ini dikarenakan adanya suatu kepercayaan yang telah mengikat setiap pribadi dari setiap suku yang ada yakni kepercayaan bahwa setiap pribadi wajib untuk hadir dalam setiap kegiatan yang dikerjakan oleh setiap anggota dari suku yang bersangkutan. Jika tidak hadir dalam kegiatan yang diadakan maka akan mendapat suatu bencana. Hal ini yang mengakibatkan tiap orang dari masing-masing suku selalu menjaga kebiasaan gotong royong yang telah dibangun oleh nenek moyang.

Agama Dan Pendidikan

Keadaan awal masyarakat Pulau Pura sebelum tahun 1923, sebagian besar masih terikat dengan system penyembahan berhala dan minimnya pengetahuan masyarakat sebelum Injil masuk ke Pulau Pura. Pada tahun 1923 tepatnya tanggal 01 Januari, seorang missionaries asal Maluku Tengah Ev. Romelus Tulihere mendarat di Pantai Baoboa tepatnya di Palakang RT 08, dusun B, Desa Pura Timur dengan menggunakan sebuah sampan perahu yang berlayar dari Maluku dengan tujuan bahwa masyarakat harus mengenal penciptanya, yaitu Tuhan yang hidup bukan benda mati, yaitu ciptaannya.

Pendidikan sendiri masuk bersamaan dengan Injil pada tahun 1954 yang bawakan oleh Ev. Romelus Tulihere. Awal berdirinya sekolah rakyat(SR) dimulai dari hasil penginjilan keliling pulau Pura dan Ternate dengan jumlah jemaat pada saat itu berjumlah 30 orang ditambah 20 orang dan menjadi 50 orang. Kemudian ke-50 orang ini juga menjadi murid pertama pada pendidikan Sekolah Rakyat(SR) yang berlokasi di Limalomi. Seiring perkembanagan zaman, dan melalui musyawarah dan juga gotong royong bersama yang dibangun, maka sekarang desa Pura Timur telah memiliki 1 unit SD, 1 unit SMP, dan 1 unit SMA dengan fasilitas yang cukup memadai. 

Wilayah Desa Pura Timur juga merupakan wilayah yang penduduknya bermayoritas Kristen Protestan, akan tetapi kehadiran jemaat pada jam - jam ibadah seperti pada kebaktian utama, kumpulan rumah tangga, buka usbu, tutup usbu, pemuda, dll sangatlah kurang jika dibandingkan dengan kehadiran masyarakat dalam pekerjaan sosial setiap hari. Sedangkan pendidikan merupakan salah satu keadaan sosial yang tidak terlepas dari kehidupan manusia terkususnya di kecematan Pulau Pura di Desa Pura Timur yang di mana mengalami beberapa permasalahan berupa, sarana prasarana, yaitu: 

1. Jarak antara sekolah dengan tempat tinggal sangat jauh;
2. Infrastruktur jalan yang kurang baik dan masih dalam proses pengerjaan;
3. Kekurangan pengajar (guru) dan juga fasilitas lain  yaitu, gedung sekolah, kursi, meja,dll.
4. Kekurangan air bersih.
Sehingga melalui pemerintahan lokal sebagai penyambung aspirasi masyarakat nilai-nilai budaya dan kearifan lokal ini tetap diperhatikan dan dilestarikan. 

Sistem Mata Pencaharian

Mata pencaharian masyarakat Desa Pura Timur sebahagian besar penduduknya mayoritas sebagai petani/nelayan dengan pola/prilaku hidup yang bersifat konsumtif. Hal ini disebabkan karena mata pencahariannya di sektor-sektor usaha yang berbeda-beda pula. Sebahgian besar di sektor non formal seperti Nelayan/Petani/Pekebun, pedagang/pengusaha, buruh tani, wiraswasta dan di sektor formal seperti PNS, Honorer, Guru, Tenaga Medis. 


Sebagai penutup, berbagai potensi desa wisata budaya di Desa Pura Timur  cukup banyak namun belum terindentifikasi. Beberapa persoalan pun muncul terkait dengan pengelolaan pembangunan  desa wisata seperti: belum optimalnya kualitas sumber daya manusia, belum optimalnya sarana dan prasarana penunjang, dan kendala dalam promosi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan kerja sama dari berbagai pihak, tidak hanya peran pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masayarakat namun juga yang lebih penting adalah peran serta aktif dari masyarakat desa wisata berbasis budaya setempat.

Potensi wisata dan kearifan lokal budaya Desa Pura Timur merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, sebab potensi dan kearifan lokal budaya itu sendiri lahir dan muncul dari kehidupan dimana masyarakat itu berada, yaitu melalui sumber daya alamnya. Desa Pura Timur merupakan desa yang potensial karena menyimpan berbagai potensi wisata dan kearifan lokal budaya yang  memiliki nilai estetik dan eksotik tersendiri dilihat dari originalitas dan keunikannya. Nilai-nilai inilah yang dapat dijual kepada wisatawan sebagai potensi asli daerahnya. Mengingat pada tahun-tahun terakhir, ternyata culture serta tradition sangat diminati wisatawan, disamping agrotourism dan ekowisatanya. 

Pemerintah lokal merupakan lembaga yang memegang peranan penting dalam mengelola dan menata sumber daya alam yang berada di Desa Pura Timur. Banyak sekali potensi desa yang belum dikelola dengan baik dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan kepariwisataan. Masyarakat lokal masih menganggap bahwa kepariwisataan merupakan bagian yang tidak terlalu penting dan itu merupakan kebudayaan luar. Sehingga potensi alam yang dimiliki oleh masyarakat lokal dibiarkan terbangkalai yang sebenarnya jika dikelola dengan baik, maka akan memiliki daya nilai bagi masyarakat itu sendiri untuk mempromosikan potensi kekayaan alamnya kepada khalayak umum.


Referensi:
Undang-Undang Kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009
Priyanto, Dyah Safitri. 2015. Pengembangan Potensi  Desa Wisata Berbasis Budaya Tinjauan Terhadap Desa Wisata Di Jawa Tengah. Jurnal Vokasi Indonesia.Vol.4, Nomor 1. Januari-Juni 2016.
Sulaeman, M. 2012. Ilmu Budaya Dasar: Pengantar Ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/   Isbd/ Social Culture. Bandung.
Suteja, Dharma. 2008. "Keunikan Alam Dan Budaya Sebagai Objek Dan Daya Tarik Wisata    Di Kabupaten Alor, Ntt". Jurnal Kepariwisataan.Vol.7, Nomor 1, Maret 2008.
Pitana, (1999:75) dalam Suteja, Dharma. 2008. "Keunikan Alam Dan Budaya Sebagai Objek Dan Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Alor, Ntt". Jurnal Kepariwisataan.Vol.7, Nomor 1, Maret 2008.
Woodley, (1992) dalam Suteja, Dharma. 2008. "Keunikan Alam Dan Budaya Sebagai Objek Dan Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Alor, Ntt". Jurnal Kepariwisataan.Vol.7, Nomor 1, Maret 2008.
Purnomo, (2008) dalam Suteja, Dharma. 2008. "Keunikan Alam Dan Budaya Sebagai Objek Dan Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Alor, Ntt". Jurnal Kepariwisataan.Vol.7, Nomor 1, Maret 2008.
Yusak Tuladang, 2018. Sejarah Tiga Tungku Desa Pura Timur(Pemerintah, Gereja Dan Adatiah). Palakang, Desa Pura Timur.
Soekanto, (2002: 15) dalam Fargomeli, Fanesa. 2014. Interaksi Kelompok Nelayan Dalam    Meningkatkan Taraf Hidup Di Desa Tewil Kecamatan Sangaji Kabupaten Maba Halmahera Timur.  Journal "Acta Diurna" Volume III. No.3. Tahun 2014.

RPJM-Desa Tahun 2017-2023. Sejarah  Desa Pura Timur. Desa Pura Timur Kecamatan Pulau Pura Kabupaten Alor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KB-AMEC: “ Sebuah Komunitas Sosial dari Desa untuk anak-anak pedesaan.”

Menurut KBBI, Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur (KB-AMEC) lahir dan tumbuh karena memiliki keterpanggilan sebagai warga aktif untuk menjangkau anak-anak di pedesaan dan memperkenalkan pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Di samping itu kami juga mencoba mengembangkan budaya kebahasaan, yaitu bahasa daerah atau bahasa ibu sebagai bahasa pertama dalam mempertahankan punahnya budaya bahasa daerah (bahasa asli atau bahasa ibu). Melalui Kegiatan Active Citizens (warga aktif) tahun 2019, tepatnya bulan November berlokasi di Ruang Lab. Bahasa, Kampus Universitas Tribuana Kalabahi, terdaftar 25 peserta yang lolos seleksi dan masuk dalam kegiatan ini. Sedikit bercerita, bahwa Active Citizens atau Warga Aktif ini merupakan sebuah gerakan yang diperuntukan bagi setiap orang yang ...

Waow....!! Selain Tuti Air Mancur, ada lagi tempat yang wajib kamu kunjungi di Desa Air Mancur, Kec. ATL, Kab.Alor-NTT.

Destinasi Wisata Di Desa Air Mancur, Kec. Alor Timur Laut, Kab. Alor-NTT. Foto: (Misteraladin) 1.     Tuti Air Mancur Tuti Air Mancur atau dalam bahasa daerah lokal di sebut Tutta yang artinya Air Sumbur/mancur telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan terletak 15 menit dari pusat Desa Air Mancur, Kecamatan Alor Timur Laut, dengan menempuh waktu 2 jam dari Pusat Kota Kalabahi Kabupaten Alor-NTT.     ( Foto: Explore Alor) Fenoma alam berupa belerang air panas yang muncul dari perut bumi yang menyumbur dan membumbung t inggi hanya berkisar 20 cm, ketika terjadi gempa pada tahun 2004 lalu, kondisi pancuran air panas ini menyusut puluhan sentimeter, namun tetap memberikan pesona bagi siapa pun yang menikmatinya. Terdapat pula tempat permandian yang dapat menyembuhkan penyakit borok/koreng. Kondisi medan berupa jalan memang cukup berat saat di lalui oleh kendaraan roda dua maupun empat. Disarankan untuk menggunakan sepeda motor selain jenis metik seba...

TUTTA – AIR MANCUR: "Berdaulat dengan Kekayaan Sendiri dan Mengurangi Dosa Ekologi (lingkungan)"

  TUTTA – AIR MANCUR "PELATIHAN PEMBUATAN MINYAK KEMIRI KERJA SAMA PEMUDA-PEMUDI GMIT SALEM PASI DAN STUBE HEMAT YOGYAKARTA" “Puji Tuhan. Semua karena rencana kita bersama dan Tuhan merestuinya.” Kata Ketua Pemuda, Alonso Tande, S.Pd dalam membuka kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 25 orang pemuda/I yang terdiri atas Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar Salem Pasi. Kondisi bangsa Indonesia dan dunia yang sementara sakit karena wabah covid-19 yang mengakibatkan semua roda kehidupan hampir terhambat, khususnya di bidang ekonomi, namun ide dan karya yang lahir dari orang-orang hebat tidak berhenti. Kegiatan ini juga merupakan kerjasama antara Pemuda/i GMIT Salem Pasi dan Stube Hemat Yogyakarta pada Selasa, 23 Maret 2021,dalam pelatihan Pembuatan Minyak Kemiri dengan mengelola dan memanfaatkan potensi-potensi alam yang diolah menjadi produk-produk lokal yang bernilai ekonomis salah satunya adalah Buah Kemiri. Buah kemiri bagi masyarakat di Kabupaten Alor merupakan salah satu komodi...