Thema: PEMUDA, PEMBANGUNAN DAN MASA DEPAN
KONTEKS
KABUPATEN ALOR
Materi Pengantar Dialog bersama
Civitas Academica Universitas Tribuana Kalabahi
Sabtu, 16 Desember 2017
Oleh Ir. Ansgerius Takalapeta,
Anggota DPRD Prov. NTT
Penulis:
Yusuf Tande
RANGKUMAN:
1.
CATATAN AWAL
Pertama,
ada pendapat yang mengatakan bahwa pemuda selalu melihat ke depan dan orang tua
selalu melihat ke belakang. Pendapat tersebut tidak selamanaya benar tapi tidak
seluruhnya salah. Orientasi pemuda selalu pada perubahan dan pembaruan menuju
kemajuan. Namun perlu disadari bahwa perubahan atau pembaruan terjadi atas masa
lalu yang panjang dimana telah diletakan oleh genersai sebelumnya. Kita harus
menengok pada tonggak perjuangan bangsa yakni: Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda
(1928), Proklamasi (1945), Orde Baru (1966) dan Revormasi (1998),maka semuanya
menunjukan bahwa orientasi pemuda selalu ke masa depan.
Kedua,
Kabupaten Alor adalah daerah dengan tipologi wilayah kepulauan dalam kesatuan
wilayah NKRI yang berbatasan laut dengan Negara RDTL. Konvigurasi wilayahnya
bergunung dan berbukit dengan variasi iklim yang sangat tinggi dan potensi laut
yang beraneka ragam sebagai modal sumberdaya alam yang spesifik. Selat Ombay
adalah Alur Lintasan Kepulauan Indonesia (ALKI) 3 yang tiap hari dilalui oleh
kapal-kapal dagang Internasional dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik dan
sebaliknya. Pulau Alor juga yang adalah daerah terpencil dan pulau kecil
menjadi prioritas pembangunan nasional terutama untuk memperjuangkan upaya
percepatan pembangunan dan penguatan jatidiri masyarakat.
Ketiga,
di Kabupaten Alor ada 13 kelompok ethnolinguistic (Stokhof, 1975), atau 17
rumpun bahasa (Grimes dkk, 1997) yang menggambarkan keragaman budaya daerah.
Sejak lampau penduduk Kabupaten Alor berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia
(Bahasa Melayu) sebagai bahasa pengantar berkomunikasi, berinteraksi dan
bersosialisasi.
2.
PEMBANGUNAN KABUPATEN ALOR BERBASIS NILAI BUDAYA
Pembangunan pada
hakekatnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar memiliki
kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi dan manajemen bagi kesejahteraan hidup
bersama. Membangun Alor dengan nuansa budaya, tentu membutuhkan pengetahuan,
pemahaman dan apresiasi kita terhadap nilai-nilai, pesan, harapan dan
cita-cita, semangat persatuan dan spirit kepemimpinan yang hidup dan
terpelihara dalam masyarakat sejak zaman leluhur dan masih relevan sebagai
modal sosial.
Dan berikut
adalah semboyan/syair berbahasa daerah yang mengandung nilai budaya ditinjau
dari sebagian besar wilayah pulau Alor.
1. ABUI, Taramiti
Tominuku : berbeda-beda tetapi tetap satu (harfiah: berbeda tempat tinggal,
namun satu hati). Syair ini mengingat dan mengajak semua pihak di Alor untuk
besatu hati membangun negeri dan kampung halaman.
2. PANTAR, Lewo Piring
Sina, Tanah Mako Jawa : adanya impian dan idaman sebuah negeri yang indah,
seindah keramik China dan porselin Jawa. Tanah
Mako Jawa: kemakmuran dan kesejahteraan. Raja Mauboli: seorang raja yang selalu dekat dengan rakyat, mau
mendengarkan dan mau berkorban demi kesejahteraan rakyatnya. Syair ini kita
menangkap sebuah kerinduan masyarakat terhadap seorang figur pemimpin yang
harus selalu dekat dengan rakyat, mau mendengarkan dan mau berkorban demi
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Aume
Naume, Naume Aume: saling menerima sebagai wujud kesetiakawanan sosial. Taruamang-Bungabali : Taruamang tana katong jaga tana katong,
Bungabali tana leing jagatana leing : peran bersama menjaga keutuhan
wilayah.
3. KABOLA, Kesepakatan adat “ 10-3-7 “ (adangbang airnu, ailbang tou, pulbang itito) : spirit
kebersamaan dalam menata hidup. Kuli
Mati-Mati Haki Tivang Levo : semangat pantang menyerah dalam membangun
kampung halaman serta mengajak keluarga dirantau untuk tidak lupa kampung
halaman dan bagi mereka Dike Date Ite
Levo Nara (baik tidak baik, ini kampung halaman kita).
4. KAMANG (sebagaian wilayah Kec. Alsel, ATL, Lembur dan Pureman), Simane : ajakan kepada bapa, mama, kakak, adik (semua komponen
masayarakat) untuk membangun kampung halamannya.
5. MATARU, Bunga
Melangkiki : harapan kepada generasi muda penerus untuk menjaga, merawat
dan melestarikan budaya.
6. PURA, Tenang eli
Mule noa : hidup bersaudara, bekerja bersama/gotongroyong membangun kampung
halaman.
7. KOLANA, Alor
Timur, Waibeke seli geipo patamuru boli, anakoda kangkang sa kuli seli gei
: pemimpin ibarat nahkoda yang mengemudikan biduk di tengah badai dan topan,
dengan keberanian dan kecakapan mengarungi lautan yang didukung oleh keluhuran
budi dan kearifan jiwa maka akan selamat dalam pelayaran. Gepai boliba eta gepai sa medi boliba eta medi gei : siapa berbuat
tidak baik akan menerima akibat buruknya.
Itulah beberapa contoh pesan moral, harapan,
cita-cita, semangat kebersamaan dan spirit kepemimpinan yang adalah kearifan
lokal yang dapat kita temui dalam kehidupan masyarakat Alor sejak dulu hingga
kini terutama di pedesaan.
Dari aspek politik, pemerintah daerah pada masa itu
menerima dan memproses aspirasi masyarakat khususnya lembaga pemerintahan
Kecamatan dan Desa. Pada tahun 2000 dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor,
dikukuhkan 77 Desa Pemekaran sehingga jumlah desa/kelurahan yang pada sebelum
tahun 2000 berjumlah 98 desa/kelurahan menjadi 175 desa dan masih berlaku
sampai sekarang. Pada tahun 2001 dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor
dikukuhkan 3 Kecamatan yang sebelumnya berstatus Kecamatan Pembantu yaitu
Kecamatan Alor Tengah Utara, Alor Timur Laut dan Pantar Barat sehingga jumlah
Kecamatan menjadi 9 Kecamatan.
Pada tahun
2005 diproses pemekaran dengan menambah 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Kabola,
Pulau Pura, Lembur, Mataru, Pureman, Pantar Timur, Pantar Tengah dan Pantar
Barat Laut sehingga jumlahnya menjadi 17 Kecamatan hingga kini. Dalam kaitan
dengan kebijakan Nasional pemberian dana desa dari APBN (Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah) mulai dari Tahun Anggaran 2015, maka nyata bahwa aspirasi
masyarakat dengan penambahan jumlah desa memberi peluang dan manfaat alokasi
dan desa yang relative lebih besar dalam jumlah komulatif Kabupaten, jika
dibandingkan dengan Kabupaten lain yang jumlah penduduknya lebih besar tetapi
mempunyai jumlah Desa yang lebih kecil.
Pemuda hendaknya menjawab Nawa Cita yang diletakan
Presiden Joko Widodo antar lain: membangun mulai dari pinggiran yang dipahami
sebagai mulai dari Desa dan daerah perbatasan, terpencil, terluar tertinggal.
Alokasi dana desa melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Nasional) cukup
besar dan akan terus meningkat, demikian juga APBD Provinsi dan Kabupaten. Sementara
ketentuan tentang pemerintah Desa mengatur SDM aparatur Desa dan perangkat Desa
membutuhkan tenaga-tenaga berpendidikan minimal SMA atau sederajat untuk
mengelola sumberdaya yang ada. Pemuda terpanggil untuk memberi jawaban dari
hati nurani untuk siap “membangun mulai dari desa”.
3.
MENYIKAPI MASA DEPAN
Pertama,
akses transportasi terbatas sebagai wilayah perbatasan, masyarakat Kabupaten
Alor (khususnya Pemuda) agar bermodalkan nilai-nilai, pesan, harapan dan
cita-cita semangat persatuan dan spirit kepemimpinan dari kearifan local daerah
juga perlu dibekali semanagat cinta tanah air dan tekad bela Negara dengan
terus membangun pemahaman tentang consensus dasar Bangsa Indonesia, yaitu : PANCASILA, UUD 1945, BHINEKA TUNGGAL IKA
& NKRI.
Kedua,
tantangan kita adalah bagaimana menyiapkan SDM local yang berorientasi global.
Disini letak tanggung jawab Universitas Tribuana untuk menyediakan SDM yang
akan bergiat membangun daerah tetapi juga berorientasi ke luar negeri (RDTL)
sebagai tenaga ahli/professional.
Ketiga,
hal yang berdampak pada kondisi sosial politik Indonesia, yakni sering terjadi
hal-hal yang unpredictable, dilemmatis dan controversial adalah terletak pada
proses pewarisan nilai-nilai luhur budaya Bangsa yang tidak berjalan baik
menyebabkan krisis kepercayaan dan krisis identitas Bangsa lambat pulih. Di era
kemajuan teknologi ini harus bijaksana dan peka terhadap informasi yang tersebar
melalui media social yang dapat mengganggu momentum pembangunan.
Keempat,
menurut pendapat ahli, ada 3 (tiga) jenis orang dalam menyikapi masa depan,
yaitu:
1)
Mereka yang membiarkannya terjadi,
2)
Mereka yang membuatnya terjadi, dan
3)
Mereka yang bingung atas apa yang terjadi.
Kelima, rahasia sukses untuk mencapai
masa depan adalah : “siap, jika ada
kesempatan”!
4.
CATATAN PENUTUP
Sejarah
membuktikan bahwa keunggulan Bangsa Indonesia terletak pada keragaman dan
kekayaan budayanya yang menyatu. Karena itu menjadi tanggungjawab sejarah bagi
pemuda untuk terus mengawal dan aktif produktif dalam semua aspek pembangunan
Bangsa dengan komitmen bahwa: Pemuda, Pembangunan dan Masa Depan adalah suatu
kesatuan tak terpisahkan.
Dengan membangun
kehidupan menyeluruh mulai dari Desa sebagai basis kehidupan masyarakat, Bangsa
Indonesia akan lebih cepat untuk mencapai perkembangan kehidupan sebagaimana
yang diikhtiarkan oleh Bung Karno , “ Berdaulat di bidang politik,
berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya sendiri.”
Komentar
Posting Komentar