Langsung ke konten utama

REVIEW AWAL MULA SEJARAH GEREJA JEMAAT SALEM – PASI



PENDAHULUAN
Awal mula gereja masuk di Alor Timur (Kolana), yaitu pada tahun 1911 dan di lanjutkan ke Takala pada tahun 1922 dan berjalan terus ke Taramana pada tahun 1927 dan  ke Mulimpui dan Watelebui pada tahun 1942.
       I.            GEREJA MASUK DI MOLIMPUI PADA TAHUN 1942
Pentingnya gereja untuk para umat Tuhan yang berada di kampung Molimpui, maka para orangtua pada saat itu mendirikan sebuah persekutuan yang mana mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah tempat ibadah yang bertempat di LIBUBA salah satu lokasi yang berada di kampung Mulimpui.
Mulimpui adalah salah satu tempat yang tidak berpenghuni dan hanya di penuhi oleh pepohonan dan ditempat itu juga tumbuh juga beberapa pohon sayur tradisional yang mana para orangtua mengambil dan dijadikan santapan sehari-hari. Oleh karena tertarik dengan tempat itu, maka para orangtua pada saat itu membuat tempat tinggal dan menyebutnya kampung Mulimpui karena tempatnya rata dan bisa dijadikan suatu perkampungan atau penduduk.
Muling witeng            =         Muling adalah nama pohon
Witeng                         =         Sayur
Mulingiteng                =         Nama pohon sayur
Kalab Mulingpu         =         Bahasa Daerah
Kalan Mulmpui          =         Di sempurnakan dengan bahasa Indonesia jadi Mulingpui
Pu                               =         Rata
Jadi, pengertiannya adalah : Nama pohon sayur ini bertumbuh di tempat yang rata sehingga orang tua dulu menamakan Kampung tersebut yaitu MULIMPUI hingga sekarang.
Mulimpui terdiri dari 2 kampung besar dan satu kampung kecil, yaitu :
1.      Kampung Omang
2.      Kampung Komang
-          Kampung kecil samiatongpe / Yopu.
Seiring berjalannya waktu, para umat Tuhan yang beribadah di Libuba mereka menggumuli selama 2 tahun dari tahun 1942-1943. Dalam pergumulan itu tujuanya adalah kerja sama antara 3 kampung besar dan mereka bersepakat untuk memindahkan tempat Ibadah dari Libuba ke Binipu Mulimpui selama1 tahun pelayannan yaitu pada tahun 1944.
 II.            GEREJA MASUK DI KAMPUNG WATELIBUI PADA TAHUN 1942
Watelibui adalah kampung yang di bangun dengan undian sebuah kelapa yang bertunas untuk di tanam dan berjanji kalau kelapa ini subur berarti kami sementara bertahan untuk perkembangan ke depan tetapi jikalau tidak subur atau mati kami akan mencari tempat yang lain tetapi ternyata subur dan menarik dan akhirnya mereka sepakat membangun kampung dengan penuh gudang dan rumah tinggal.
Ternyata pertumbuhan kelapa ini ingat subur sekali seperti dipinggir air dan mereka bertemu untuk  menentukan rumah ibadah dan lokasinya;di KOMETE pada tahun 1942 dan selama 1 tahun kemudian mereka pindah ke Kanalta pada tahun 1943-1945.

Wateilibui        = ucapan bahasa daerah
Watelibui         = tulisan yang di sempurnakan oleh bahasa Indonesia.
Maka; Watei                = Kelapa
Libui               = Letak tempatnya di apit 2 bukit
Watelibui terdiri dari kampung-kampung kecil, yaitu :
1.      Kampung Waimana
2.      Mabute
3.      Daupu
4.      Pimana - Atobong
5.      Sipumana
6.      Yoba
7.      Lauba (pecahan dari kampung Maremang)
Kampung Omang adalah pecahan dari Jemaat Molimpui yang sekarang disebut mata Jemaat KOINONIA SERENGLANG dan juga kampung Komang pecahan dari Jemaat Libuba Mulimpui yang disebut sekarang Jemaat Salom Taramana. Jemaat Watelibui sebelum berkumpul di Yopu terdiri dari :
1.      Waimana
2.      Mabute
3.      Donpu
4.      Pimana – Atobong
5.      Yoba
6.      Sipumana
7.      Lauba
8.      Umang
9.      Manamang
10.  Suaikoi
11.  Pipu Kaumang
12.  Wongpui Itumana

Dalam pergumulan selanjutnya para umat Tuhan yang menjalin persekutuan bersama antara 2 kampung besar, yaitu Mulimpui dan Watelibui dan beberapa kampung yang tergabung didalamnya dan mereka bersepakat untuk beribadah bersama di Yopu.
Dengan susah payah mereka membangun persekutuan itu, namun terjadilah suatu kejadan yang diluar dugaan umat Tuhan pada saat itu.
 III.            TERPISAHNYA JEMAAT PADA TAHUN 1948  DI YOPU
Akibat terpisahnya adalah demi mengingat letak geografis daerah perkembangan Penduduk masa mendatang. Pergumulan jemaat di Yopu tetap mengringi perjalanan hidup mereka agar mereka dapat bersatu lagi di satu tempat dan akhirnya mereka bertemu kembali lagi di jemaat wilayah Kamot dan sebagian dari wilayah jemaat Taramana.
Tumpuan berpisah di Yopu terkesan bagi umat TUHAN saat itu adalah adanya salah satu program yang di cita-citakan bersama yaitu pendidikan. Di dalam pergumulan  perjalanan ini di pikirkan bersama oleh kedua kampung besar yaitu, Mulimpui dan Watelibui yang bersatu di Yopu. Mereka memulai langkah awal dan sepakat untuk Pembukaan sekolah Buta Huruf (PBH) pada tahun 1948-1955 dan kemudian mereka membuka Calon Sekolah Rakyat (Ca’SR) di Yopu. Kedua program ini berjalan untuk PBH selama 3 bulan oleh Bapak Filmon Laisire dan menjelang 3 bulan dlanjutkan Ca’SR (Calon Sekolah Rakyat) selama 9 bulan (12/1 tahun) pada 1949 oleh (Alm) Samuel Makunimau.
Dan di saat terhentinya Sekolah Rakyat ini, Umat Tuhan dan atau masyarakat  saat itu sangat susah  karena SDM (Sumber Daya Manusia) sudah jadi awam bagi mereka tetapi mereka tetap berdoa  menggumuli tentang Pendidikan agar berjalan terus.

 YOPU adalah :
1.      Identitas Umat Tuhan saat itu berada di tempat itu,
2.      Tempat berdoa dan berkerja (Oraetlabora),
3.      Yopu juga di artikan  secara orang percaya, yaitu :
         Umat Tuhan Mulimpui  dan Watelibui  selama di Yupu ± 12 tahun yaitu 1948-1960 dan beralih perjalanannya ke Pasi. Sangat luar biasa dan dalam ketahanan Iman mereka demi generasi mendatang  dan itulah perjuangan pergumulan para pendahulu saat itu.
Ada 2 hal penting umat Tuhan menggumuli ketika hendak ke Pasi, yaitu :
1.      GEREJA
2.      SDM (Sumber Daya Manusia).
Dan ketika mereka berada di Pasi, kedua hal penting diatas telah berhasil sehingga PASI disebut:
1.      Tempat identitas Jemaat Salem Pasi
2.      Pendidikan telah berhasil dan berjalan yaitu, Sekolah Rakyat gandengan Taramana di rubah menjadi SD GMIT Molimpui yang berdiri sejak 01 Agustus 1962 (Dengan nomor sekolah 63)
3.      Selain Gereja dan SDM, terbentuk juga Desa gaya baru bernama KAMOT, yang berarti :
KA = Kamengmi, MO = Molimpui, T = Timomang.
4.      Jemaat Salem Pasi berangkat dari Yopu ke Pasi dalam kebersamaan menggumuli agar  salah seorang Putra dari Jemaat asal Salem Pasi menjadi Pendeta.
5.       Telah tercapai tujuan Jemaat sehingga Jemaat Salem Pasi mengirim seorang Putra asli atas nama Phelipus Tande untuk mengambil study Teologia di Kupang pada tahun 1988 dan berhasil kembali  dan memimpin sementara Jemaat Salem Pasi.
     Sehingga jemaat mensyukuri sepanjang perjalanan ini karena terukir indah dengan kehadiran seorang Putra asli dari Pasi telah berhasil kembali memimpin Jemaat Salem Pasi dan jabatannya adalah Panitia Pembangunan meskipun beliau adalah Ketua Jemaat Ebenhaezer Bondata.
Dengan demikian, maka Pasi adalah :
KANG =  BAIK/BENAR)
       ATAK = 10 (SEPULUH).
Kalimat diatas (KANGATAK) mempunyai sejarah dimana pada saat itu para orang tua  membuat kesepakatan bersama yaitu sebuah perjanjian bahwa tempat (saat ini Gereja berada) merupakan tempat perburuan dan jika dari tempat ini mereka mendapatkan hasil perburuan yang baik, maka mereka akan membangun sebuah kampung dan juga tempat peribadatan yang mana sekarang dinamakan Pasi Kangatak dan sekarang disebut Jemaat Salem Pasi hingga sekarang. 
Pasi Kangatak yang berarti Pertolongan Allah Sangat Indah Baik dan Benar.

Pasi, Kangatak 23 April 2017


Penyusun Sejarah
(Petrus B. Tande)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KB-AMEC: “ Sebuah Komunitas Sosial dari Desa untuk anak-anak pedesaan.”

Menurut KBBI, Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur (KB-AMEC) lahir dan tumbuh karena memiliki keterpanggilan sebagai warga aktif untuk menjangkau anak-anak di pedesaan dan memperkenalkan pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Di samping itu kami juga mencoba mengembangkan budaya kebahasaan, yaitu bahasa daerah atau bahasa ibu sebagai bahasa pertama dalam mempertahankan punahnya budaya bahasa daerah (bahasa asli atau bahasa ibu). Melalui Kegiatan Active Citizens (warga aktif) tahun 2019, tepatnya bulan November berlokasi di Ruang Lab. Bahasa, Kampus Universitas Tribuana Kalabahi, terdaftar 25 peserta yang lolos seleksi dan masuk dalam kegiatan ini. Sedikit bercerita, bahwa Active Citizens atau Warga Aktif ini merupakan sebuah gerakan yang diperuntukan bagi setiap orang yang ...

Waow....!! Selain Tuti Air Mancur, ada lagi tempat yang wajib kamu kunjungi di Desa Air Mancur, Kec. ATL, Kab.Alor-NTT.

Destinasi Wisata Di Desa Air Mancur, Kec. Alor Timur Laut, Kab. Alor-NTT. Foto: (Misteraladin) 1.     Tuti Air Mancur Tuti Air Mancur atau dalam bahasa daerah lokal di sebut Tutta yang artinya Air Sumbur/mancur telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan terletak 15 menit dari pusat Desa Air Mancur, Kecamatan Alor Timur Laut, dengan menempuh waktu 2 jam dari Pusat Kota Kalabahi Kabupaten Alor-NTT.     ( Foto: Explore Alor) Fenoma alam berupa belerang air panas yang muncul dari perut bumi yang menyumbur dan membumbung t inggi hanya berkisar 20 cm, ketika terjadi gempa pada tahun 2004 lalu, kondisi pancuran air panas ini menyusut puluhan sentimeter, namun tetap memberikan pesona bagi siapa pun yang menikmatinya. Terdapat pula tempat permandian yang dapat menyembuhkan penyakit borok/koreng. Kondisi medan berupa jalan memang cukup berat saat di lalui oleh kendaraan roda dua maupun empat. Disarankan untuk menggunakan sepeda motor selain jenis metik seba...

TUTTA – AIR MANCUR: "Berdaulat dengan Kekayaan Sendiri dan Mengurangi Dosa Ekologi (lingkungan)"

  TUTTA – AIR MANCUR "PELATIHAN PEMBUATAN MINYAK KEMIRI KERJA SAMA PEMUDA-PEMUDI GMIT SALEM PASI DAN STUBE HEMAT YOGYAKARTA" “Puji Tuhan. Semua karena rencana kita bersama dan Tuhan merestuinya.” Kata Ketua Pemuda, Alonso Tande, S.Pd dalam membuka kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 25 orang pemuda/I yang terdiri atas Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar Salem Pasi. Kondisi bangsa Indonesia dan dunia yang sementara sakit karena wabah covid-19 yang mengakibatkan semua roda kehidupan hampir terhambat, khususnya di bidang ekonomi, namun ide dan karya yang lahir dari orang-orang hebat tidak berhenti. Kegiatan ini juga merupakan kerjasama antara Pemuda/i GMIT Salem Pasi dan Stube Hemat Yogyakarta pada Selasa, 23 Maret 2021,dalam pelatihan Pembuatan Minyak Kemiri dengan mengelola dan memanfaatkan potensi-potensi alam yang diolah menjadi produk-produk lokal yang bernilai ekonomis salah satunya adalah Buah Kemiri. Buah kemiri bagi masyarakat di Kabupaten Alor merupakan salah satu komodi...