Menurut KBBI, Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur (KB-AMEC) lahir dan tumbuh karena memiliki keterpanggilan sebagai warga aktif untuk menjangkau anak-anak di pedesaan dan memperkenalkan pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Di samping itu kami juga mencoba mengembangkan budaya kebahasaan, yaitu bahasa daerah atau bahasa ibu sebagai bahasa pertama dalam mempertahankan punahnya budaya bahasa daerah (bahasa asli atau bahasa ibu).
Melalui Kegiatan Active Citizens (warga aktif) tahun 2019, tepatnya bulan November berlokasi di Ruang Lab. Bahasa, Kampus Universitas Tribuana Kalabahi, terdaftar 25 peserta yang lolos seleksi dan masuk dalam kegiatan ini.
Sedikit bercerita, bahwa Active Citizens atau Warga Aktif ini merupakan sebuah gerakan yang diperuntukan bagi setiap orang yang memiliki jiwa sosial untuk bergerak membuat perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Membuat perubahan yang saya maksudkan adalah hal sekecil apapun yang kita lakukan itu bermanfaat. Itu yang disebut dengan warga aktif.
Melalui Perkumpulan Pikul, Sebuah Yayasan di Kota Kupang (Kebetulan Pendirinya adalah Om Dany Wetangterah) kerja sama British Council, mengadakan kegiatan ini selama 4 hari.
Banyak hal yang dipelajari dan menurut saya itu adalah salah satu kegiatan terbaik yang pernah saya ikuti dari kegiatan² lain dengan metode yang benar-benar mengubah mindset (cara berpikir) saya tentang bagaimana memulai suatu gerakan sebagai warga aktif dan mengajak orang lain untuk ikut dan menjadi warga aktif dan seterusnya. Artinya begini, “ kalo lu mau buat satu perubahan na libatkan orang lain juga, supaya kam pu ide, gagasan, dan tujuan selaras dan buat satu perubahan kecil sudah.” Kira-kira begitu.
Peserta dalam kegiatan ini diikuti oleh kalangan mahasiswa, dosen, pendeta/vikaris, karyawan kantor, guru, pegiat media sosial dan pegiat komunitas.
Oke, balik lagi pada judul diatas. Terbentuknya Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur karena keterpanggilan sebagai warga aktif (bukan karena nganggur alias pengangguran...hehehe).
“Sa taunya ada sekolah formal yang mana itu dong Pun cara kerja su ada dalam sistem alias su di atur. Beda dengan Komunitas yang secara sukarela memberi yang sekiranya itu bermanfaat. Kalau kata Kaka Petrus Maure (Pendiri Alor Creative 100%) “Tinggal dalam sistem atau kita yang buat sistem.” Hihihi..keren juga nih Kaka....
Setelah tukar ide dan gagasan bersama salah seorang teman Guru, namanya Alonso Tande, kebetulan sama-sama dari satu kampung, kami buat pertemuan bersama beberapa orang tua, orang muda dan pemerintah Desa Air Mancur tepatnya pada 25 Januari 2020. Tujuannya adalah kami mau minta petunjuk, nasihat, dan saran, karena kami belum terlalu memahami tentang kondisi dikampung seperti apa (maklum, Sa sejak SMP sampai Kuliah di Kalabahi, sedangkan Alon sendiri Kecil dan besarnya di lingkungan suku Timor, hanya karena kuliahnya di Alor).
Kami mendapat dukungan berupa nasihat, masukan serta saran bagaimana kami harus memulai. Nah, dari sini sudah ada warga aktif, yang tadinya Cuma satu orang, dua orang, sekarang sudah tidak sendiri.
Setelah itu, melalui kerja sama dengan Pihak Gereja, kami mengumumkan kepada orang tua anak, bahwa telah dibuka Komunitas Belajar Bahasa Inggris. Dan benar saja, setelah hari itu anak-anak mulai antusisas untuk datang belajar. Kebetulan rumah yang kami pakai adalah rumah saya sendiri, namun karena tidak dapat menampung kapasitas jumlah anak-anak, kami memutuskan untuk mencari tempat yang layak.
Kami bekerjasama dengan pihak sekolah (SD GMIT Molimpui), dan puji Tuhan kami diberi ruang untuk memakai Gedung sekolah (3 ruangan) sebagai tempat belajar kami. Sejak bulan Januari-Maret 2020, Komunitas Belajar kami mulai berjalan dengan waktu pertemuan seminggu dua kali karena mengingat jarak tempuh anak yang berbeda karena kondisi geografis didesa.
Kami juga mengajak salah seorang Guru Bahasa Inggris di salah satu SMP, kebetulan karena satu kampung juga (Kaka Semmi Yati Letti, S.Pd) untuk terlibat secara sukarela dalam mengajar anak-anak di desa, walaupun beliau sibuk tapi bisa meluangkan waktu untuk membantu mengajar.
Kami juga membuat Fanpage Facebook @Air Mancur English Course dan Instagram @airmancur.englishcourse untuk terus berbagi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan. Berkat media sosial, kami mendapat kunjungan dari Kaka Elyas Asamau (Pendiri PKBM Alorindah) lewat sumbangannya berupa buku-buku bacaan, baik dalam bahasa Inggris maupun buku-buku umum lainnya. Kami juga mendapat kunjungan dari Stube Hemat Yogyakarta melalui Kaka Petrus Maure (Pendiri Alor Creative 100%, sekaligus Multiplikator dari Stube HEMAT) untuk berbagi dan belajar bersama kami. Kami juga mendapat kunjungan dari Kepala Bagian Promosi Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Bapak Edison Tangko (Salah satu Orang Tua Kami yang saat ini bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi). Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan berharga ini.
Kami juga sempat berhenti sejenak untuk belajar, dikarenakan pandemi covid-19 yang melanda dunia, yang membuat semua roda kehidupan terhambat, salah satu dibidang Pendidikan.
Tepatnya pada 22 Maret 2021, seiring berjalannya waktu dan kegiatan kami di Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur, perlu untuk kami berdiskusi secara dekat dengan para orang tua, selain sebagai guru pertama juga sebagai pengawas ketika anak-anak sedang berada di Kelas Komunitas Belajar.
Kami mendapat dukungan penuh. Adapun agenda pertemuan bersama ini adalah,
1. Membicarakan secara garis besar kerja dari Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur;
2. Syarat dan pendaftaran menjadi peserta dalam kelas Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur.
Dari dua poin diatas, kami menjelaskan mengapa dan bagaimana kelas Komunitas Belajar ini ada, untuk siapa dan buat apa. Selain itu, kami juga menjelaskan mengapa perlu adanya Persyaratan dan pendaftaran, sebab disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
Dari hasil sharing bersama orang tua diatas, kami mendapati poin bahwa mereka sangat mendukung dan berterimakasih atas terselenggaranya kelas Komunitas Belajar ini, dan sebagai dukungan untuk komunitas ini terus berjalan, secara sukarela mereka memberikan iuran perbualan peranak Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah).
Perlu saya jelaskan disini bahwa, iuran perbulan peranak ini merupakan bentuk dukungan dari orang tua peserta untuk kelangsungan belajar mereka dalam menyiapkan segala sesuatu dalam menunjang fasilitas belajar mereka (seperti: spidol, buku modul pembelajaran, dll). Saya tekankan sekali lagi, ini murni dari bentuk dukungan orang tua. Kami juga telah menyepakati untuk hari belajarnya adalah setiap hari Jumat dan Minggu, Jam 15.00-16.30 WITA (jam tiga sore sampai jam empat tiga puluh Waktu Indonesia Tengah).
Sampai saat ini, jumlah peserta kelas Komunitas Belajar Bahasa Inggris Air Mancur berjumlah 30 orang dalam absen kelas dengan dua kelas, yaitu kelas SD dan SMP.
Warga Aktif, melalui metode sungai kehidupan; SAYA – SAYA & KAMU – KITA – KITA BERSAMA.
Tidak mudah memang, membentuk sebuah Komunitas karena harus mengumpulkan orang dengan latar belakang karakter dan sifat yang berbeda, apalagi dalam lingkungan masyarakat yang masih awam tentang arti sebuah Pendidikan khususnya pembelajaran tentang Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional di pedesaan dan juga bagaimana mengembangkan budaya bahasa daerah. Tentu kekuatannya terletak pada keterlibatan semua unsur dan tokoh utama di desa.
Akan terus berproses untuk menciptakan ide dan metode, yang sekiranya merupakan kebutuhan, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya.
Semoga rencana kita, Tuhan Yesus selalu menyertai.
Founder KB-AMEC
(Yusuf Tande, S.Pd)
Follow our Activity on:
Facebook:
@Air Mancur English Course
@Usu Tande
Instagram:
@airmancur.englishcourse
@usutande27
YouTube Channel:
Usu Tande

Komentar
Posting Komentar